Pages

Artikel (Kode Etik): Krisis Kejujuran Hasilkan Potensi Mahasiswa Bernilai Palsu

Artikel ini dibuat dalam rangka partisipasi mengikuti Dakom Award 2016. Lomba blog. Yuk, Baca Selengkapnya...

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare

STAIN Parepare merupakan satu-satunya perguruan tinggi negeri yang ada di kota Parepare. Yuk, Kunjungi Websitenya...

Mari Bersedekah

Yuk, lihat iklan video karya Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam. STAIN Parepare

filsafat islam

Ingin Menjadi Seperti Pohon

Mengapa inging menjadi pohon? Yuk, Baca selengkapnya

Wednesday, August 4, 2021

Memang Sederhana

 


“Katanya ingin berangkat 7.30 wita, nyatanya masih berangkat di jam yang tak semestinya,” gumamku memprotes diri yang katanya ingin berubah tapi tetap saja begitu. Hmm… esok, sudah bisa. Seperti ketikan seribu kata ini yang telah menghilang sejak 30 hari (ah, kurasa lebih 30 hari).

Angin bertiup agak kencang, syukurnya di belakangku  seorang perempuan berkacamata menjadi pemberat. Akhirnya, roda duaku pun dapat kulaju agak cepat tanpa takut terbang terbawa angin. Maklum beratku lumayan ringan meski tak seringan layang-layang. Hehe.

Jika raga ini seorang diri maka tangan kanan takkan berani menarik kencang gas saat angin juga ikut bertiup kencang.

Sebenarnya keinginan untuk kembali menulis seribu kata ini sudah ada sejak beberapa hari ini, namun raga yang lelah efek perjalanan 40 km PP dan otak yang mulai malas akhirnya penundaan sering kali menjadi pembatas yang tak terlihat.

Kali ini takkan kubiarkan, entah bagaimana esok. Sebisa mungkin, hati ini ingin menyelesaikan komitmen menulis seribu kata perhari selama seratus delapan puluh hari berturut-turut. Sebuah komitmen yang digaungkan dalam hati dan otak, sejak tahun 2019.

Ya Allah, sudah tahun berapa ini?

Sudah tahun 2021, Hayana. Bagaimana mungkin, sampai sekarang belum bisa selesai-selesai.

Namun, readers… akibat tak selesai-selesai akhirnya saya punya banyak judul tulisan dan membukukan 2 berISBN. Bukankah ini menjadi bagian daripada hikmah? 

Hmmm…. Apakah ini bentuk pembelaanmu, Hayana. Ah, entahlah.

Hari ini, saya ingin bercerita tentang sesuatu yang sederhana.

Meski sederhana, tapi membuat saya sangat bersyukur.

Apa itu?

Begini ceritanya. Silahkan baca dengan pelan yakkk.

Mendekati pertengahan jalan menuju rutinitas hari ini, seorang perempuan naik motor scoopy dengan warna crem sesuai warna kesukaan Hayana, ia melaju melampaui dengan pelan. Hati ini sempat heran, mengapa pengendara itu terlalu dekat dengan posisiku saat ia melampaui. Warna khimar dan tasnya, masih jelas di ingatan. Ia melampaui tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Namun, saat ia berada di depan kendaraanku yang juga sedang melaju, saya seperti membaca isyarat yang ia tunjukkan padaku.

Kulihat ia sesekali memerhatikan kaca spion kanannya, lalu sesekali ia menyalakan lampu weser kirinya. Otak ini sempat heran, namun segera tangan ini mengecek tombol weser dan benar saja weser roda duaku sedang aktif, maka segera kunonaktifkan.

Ia kemudian melaju jauh lalu kulihat ia berbelok ke kanan arah pom bensin.

Sebuah doa baik kulangitkan untuknya sebagai  tanda rasa terima kasih untuk perempuan yang tak kukenali namun seperti telah menjadi kawan sejak saat itu.

Apa yang ia lakukan memang sangat sederhana. Namun, saya terpesona dengan kepeduliannya. Bisa saja ia tak peduli, namun dengan caranya yang unik memberi isyarat menyalakan lampu wesernya secara kedap-kedip membuat saya segera paham apa yang ia maksudkan.

Sebuah komunikasi nonverbal tanpa suara. Sederhana tapi menyentuh hati ini.

Jika setiap hati kita saling peduli kepada orang lain meski itu seputar hal-hal yang sederhana, rasanya dunia akan terasa indah meski pandangan mata tidak menangkap keindahan secara tampak.

Dunia tentu takkan terasa sesak dengan keegoisan yang semakin menjulang tinggi. Hmmm… benarkah? Entahlah readers. Semoga hati dan otak kita, selalu bisa memaknai hal-hal sederhana menjadi rasa yang penuh syukur dan membahagiakan.

Saya sangat paham, dunia semakin kompleks (rumit) dan bahkan terasa hampa bagi beberapa pemilik hati dan otak.

Ok, next…

Cerita sederhana kedua, dibantu.

Saya tak ingin menyebutkan satu persatu nama orang yang suka membantu Hayana. Namun, Insyaa Allah kelak saya akan bersaksi kepada Yang Maha Pembalas atas segala bantuan yang kalian lakukan. Bantuan hal-hal kecil namun sangat berdampak besar.

Ya, sesederhana itu cerita keduanya. Hehe.

Intinya, bantuan hal-hal kecil tetap saja lakukan pada orang lain. Bisa jadi hal kecil itu, justeru sangat berkesan dan sangat membantu.

Prinsipnya, “jika kamu suka dibantu, maka kamu mesti suka membantu orang lain terlebih dahulu”.

Ketahuilah bahwa saat kita membantu orang lain, memang tidak akan menjamin bahwa orang itu akan kembali membantu kita. Namun, Allah akan datangkan orang lain yang akan membantu kamu.

Bisa dibilang Membantu=Menolong.

Singkatnya, “kalau kamu suka ditolong, maka kamu juga mesti suka menolong” J begitu kata Hayana teduh. Hehe.

Cerita sederhana ketiga.

Saat raga ini kembali pulang dari rumah. Dengan pedenya saya merasa bensin kendaraanku ini akan sampai di pom bensin. Namun, belum sampai di pom bensin… kira-kira sekitar 2 km lagi, laju roda duaku mulai tersendat-sendat. Saya segera paham bahwa air minum roda duaku ini pasti sudah habis. Sebelum berhenti melaju, sepasang mata ini melihat sebuah toko kecil dengan jejeran botol bensin (mirip minyak kelapa tapi bukan). Hanya saja, saya berhenti agak jauh melewati toko kecil itu. Ingin kuputar arah lalu mendorong, namun raga ini tak sanggup mendorong roda dua itu melawan arah dengan arus yang lumayan padat. Akhirnya, saya berjalan kaki mendekati toko kecil itu. Seorang ibu-ibu berdaster orange dengan wajah yang ramah menyambut raga minimalis ini. Kukatakan padanya tentang perkiraanku yang meleset tentang bahan bakar roda duaku. Saya melihat roda duaku yang terparkir sekitar 100 meter dan berucap, “Sayapi bu pergi isi disana. Berapa harga sebotol bensin ta?”. Sebuah kalimat yang mengandung pernyataan dan pertanyaan.

Pernyataan untuk memudahkan ibu itu agar ia tak usah repot-repot berjalan ke sana dan kalimat pertanyaan menunjukkan bahwa sudah lama sekali saya tak pernah beli bensi botolan.

Namun, ia dengan wajah tersenyum… ia membawa botol berwarna kuning orange itu menuju roda duaku. Saya mengikutinya dari belakang. Jalannya agak pelan dan tanpa alas kaki. Sungguh, saya merasa tidak enak hati padanya.

Lalu, saya membukakan sadel dan penutup bensin rodaku. Ia kemudian bertanya tentang lokasi tujuanku lalu kujawab sambil menutup dangan ucapan terima kasih sambil senyum lebar meski ia tak bisa melihatnya dengan jelas karena senyum ini sedang tertutupi sebuah masker kain bermotif bunga.

Tapi, kurasa ia bisa melihat sepasang mata yang semakin menyipit mengisyaratkan sedang tersenyum.

Sayapun kembali melanjutkan perjalanan setelah membayar dagangannya.

…

Hal-hal sederhana yang mengandung kebaikan-kebaikan kecil seringkali luput dari rasa syukur kita.

Lalu, banyak fokus pada hal-hal kecil yang dikeluhkan dan menghasilkan rasa sesak dalam dada. Benar saja, kita semestinya harus cerdas bersyukur dan bodoh dalam mengeluh. Namun, ini memang bukan hal mudah meski terlihat mudah. Setan, jin dan sejenisnya tak suka kalau readers full bersyukur (selalu bersyukur setiap saat). Mereka akan mengacaukan otakmu lalu mengacaukan rasa syukurmu. Hingga yang tersisa hanya keluhan yang berujung pada kemarahan dan keputus asaan. Tentu, ini menjadi self reminder bagi readers terlebih lagi si pengetik (Hayana).

Menjelang mencukupi seribu kata, saya mengingat masih ada beberapa hal yang mesti dikerjakan. Hope, esok jari jemari ini masih bisa mengetik seribu kata di hari esok dengan cerita sederhana tapi bermakna.

Ya, maknanya memang sederhana  tapi semoga saja tetap menarik dan berfaedah. Sekecil apapun faedahnya. Terima kasih telah membaca hingga tuntas J Salam Sejuk, @hayanaaa.  [Tanete, 04 Agustus 2021 pukul 20.30 wita.

 _____

Eitss... karena produk full faedah tidak boleh dirahasiakan :)












 

 

 

Friday, July 2, 2021

Kata dari Viewers


 

Bismillah…

[Senin, 28 Juni 2021]

Sebenarnya kemarin saya ingin mengetik ini tapi karena ada satu amanah yang deadline. Jadinya saya memilih menunda ketikan ini.

Alhamdulillah, saat saya mengetik ini saya tidak kepanasan. Meski agak kurang nyaman karena saya mengetik ini tanpa meja yang biasa saya gunakan. Belum lagi punggung ini, tidak bersandar. Ya sudah kita abaikan itu dan terus mengetik saja.

Matahari bersinar cerah, meski saya tidak melihatnya sekarang. Udara terasa sejuk meski sedang tidak berada di puncak gunung. Ya, sekarang saya berada dalam ruangan berAc dengan warna dinding biru laut. Meski kemarin-kemarin saya merasa rindu pasir paputo, menyebut kata laut rindu itu kembali muncul.

Saat mengetik ini, saya sedang bersama 3 teman baruku. 2 orang asyik dengan gedgetnya dan 1 lagi asik dengan tidurnya (katanya sih habis dari vaksin). Sungguh, setiap orang itu seperti buku yang membawa pelajarannya masing-masing.

Baiklah, hari ini saya akan bercerita sesuai dengan request kata my viewers entah itu dari di Instagram maupun di WhatsApp.

Kata pertama, dari seorang berkacamata, ahli ambil gambar dan mengedit juga. Ia mengajukan kata Peduli. Saat membaca kata itu, yang terlintas malah instansi TV Peduli :D sebuah media pemerintah yang bertugas menyebarkan informasi di sekitar kota kelahiran BJ. Habibie. Namun, saat membaca kata kedua dari seorang yang awalnya teman facebook mengirim kata Sticker.

Ia mengajukan kata sticker mungkin karena saya selalu menutupi wajah pakai stiker. Padahal di dunia nyata saya lebih suka menutupi wajah pakai masker.

Dulu, saya seringkali dimarahi oleh Satpam kampus karena kala itu kami dilarang menutup wajah termasuk masker kalau sedang berada di area kampus. Saya paling hobi jalan kaki sambil pakai masker. Hobbi ini sebelum adanya makhluk viral itu. Lalu, kenapa saya pakai masker kala itu? Untuk apa? 

Pertama untuk menghindari debu. Kedua untuk menyembunyikan wajah. Memangnya ada apa dengan wajahmu? Nanti saya bahas. Yang jelas sekarang justeru kita ditegur kalau tidak pakai masker. Dunia terbalik, kan?

Peduli dan Stiker. Dua kata berbeda namun otak kecil ini mengaitkan dua kata itu.

Peduli itu sebenarnya apa sih? Saya lebih penasaran kenapa ia mengungkapkan peduli. Apakah sekarang ia sudah jarang melihat kepeduliaan? Apakah sekarang sudah banyak ketidakpeduliaan? Seperti spiderman Parepare yang kerap kali melihat ketidakpedulian warga terhadap sampah-sampah yang berserakan.

Peduli? Apa yang terlintas dalam benak viewers?

Kalau menurut Hayana peduli itu bisa jadi dalam wujud perhatian dan bisa jadi dalam bentuk mengabaikan.

Maksudnya, Hayana?

Kalau peduli itu disebut perhatian, yaa tentu sudah biasa. Namun, saya pernah melihat seseorang karena ia peduli maka ia mengabaikan.

Maksudnya? Hmm… bagaimana ya menjelaskannya.

***

[Kamis, 01 Juli 2021]

Dua hari saya menjeda tulisan ini, lalu baru lanjut kembali di tempat yang sama dengan orang berbeda.

Tiga wanita asyik berdiskusi mengenai tayangan favorite mereka. Tanyangan favorite readers apa?

Lalu, otak viewers akan otomatis mencari jawabannya meski tak diungkapkan langsung ke Hayana.

Baiklah, kita kembali ke topic.

Peduli.

Tanpa bicara panjang kali lebar, sebenarnya kalian sudah paham dengan kata peduli. Bahkan sebenarnya, setiap orang punya versi masing-masing tentang rasa pedulinya.

Silahkan viewers beritahu ke pengetik, versi peduli apa yang sering kamu lakukan.

Kali ini, saya akan menceritakan versi peduli Hayana.

Ini ada hubungannya dengan stiker.

Karena peduli dengan orang lain, jadi saya sering memakai stiker. Meski, sebenarnya di sisi lain saya yang menjaga perasaanku sendiri.

Maksudnya?

Menjaga perasaanku dari dampak pujian hasil komentar wajahku. Meskipun tidak saya pungkiri, saya akan tetap upload foto wajah di internet.

Lalu apa hubungannya dengan stiker?

Karena saya peduli dengan perasaanku terlebih lagi perasaan setiap viewers yang memandang. Jadinya, setiap kali saya mengupload foto akan saya stiker, meski memang tidak sepenuhnya. Saya tidak ingin, foto wajahku terbayang-terbayang di benak viewers. entah itu pada kaum adam maupun hawa.

Karena ada dua kemungkinan yang bisa muncul?

Suka akan berujung pada kekaguman.

Tidak suka akan berujung pada rasa iri hati.

Mungkin, itulah sebabnya sebaiknya kita sebagai pemilik wajah mesti senantiasa membaca doa bercermin sebagai upaya perlindungan.

Baiklah, kita beralih ke kata selanjutnya.

Senja.

Biasa disebut sunset. Banyak orang yang menyukainya.

Namun, saya pribadi lebih menyukai sunrise dibandingkan sunset.

Mengapa?

Entah mengapa setiap kali melihat sunset, ada kesedihan yang muncul. Sedangkan jika sunrise, muncul rasa harapan, optimis, semangat.

Entah, apa yang terlintas dalam benak pelontar kata senja. Apakah ia menyukai senja? Atau apa. Entahlah. Yang jelas, sunrise dan sunset sekilas memang terlihat sama.

Namun, udaranya sangat membedakan.

Tidak banyak yang bisa kuceritakan tentang senja. Namun, apa hanya saya saja yang merasa kalau melihat senja bawaannya ingin langsung pulang ke rumah. Jika, tidak bisa pulang maka otomatis saya akan menderita homesick.

Kata selanjutnya yakni lantai.

Seorang teman berkacamata dengan suara ganda (berciri khas) mengirim kata ’lantai’.  Saya hanya langsung teringat dengan lantai kamarnya yang bercorak kayu. Lumayan bagus dipandang apalagi view di luar jendelanya terdapat kincir angin [mirip Belanda] hehe.

Lalu,kenapa ia mengajukan kata lantai? Lantai. Cintai. Tiga huruf di belakangnya apa coba? Hehe.

Lantai mengingatkanku tentang bersujud. Menyembah PadaNYa.

***

[Jum'at, 02 Juli 2021]

Baiklah, saya kembali melanjutkan setelah melewati satu malam.

Masih di tempat yang sama, meski dengan baju, khimar dan hari yang berbeda. Saya akan kembali melanjutkan ketikan yang tertunda ini.

Terakhir, membahas kata lantai.

Barusan dapat chat dari orang yang mengajukan kata lantai. Ia mengirim screenshot lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Namun, lokasi penempatannya di luar Sulawesi Selatan. Saya hanya langsung teringat dengan Negara New Zealand. Sebuah Negara pegunungan, alam yang indah. Rasanya, ingin merantau ke sana. Hehe.

Tapi, mana mungkinlah. Meski, tidak ada hal yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak [kun fayakun].

Ok, kita kembali ke lantai.

Saya kalau punya rumah selanjutjya, juga ingin motif lantainya kayu atau bahkan lantainya dari kayu. Karena suka rumah kayu sihh. Pikiranku kalau rumah kayu, seperti lagi main rumah pohon.

Readers, suka rumah apa ? tapi, apapun bentuk rumah yang penting membawa kedamaian  dan  itu hal yang paling penting.

Baiklah, kata selanjutnya adalah ikhlas bahagia.

Kalau kamu ikhlas maka kamu akan bahagia. Simple sih dituliskan, tapi untuk mewujudkan itu butuh hati yang kuat.

Tetiba, otak ini teringat sebuah tulisan di dinding kos.

“Apapun yang kamu lakukan, Hayana. Lakukan dengan rasa tulus dan ikhlas lalu perhatikan apa yang terjadi”.

seringkali, saya dibuat takjub akan hasil dari kalimat itu. Namun, akhir-akhir ini saya sedang berusaha kembali menerapkan kalimat itu yang sering kali hilang menghilang.

Kuharap, para readers pun berusaha untuk itu. Tidak mudah, namun bukan hal yang tidak mungkin.

Ok, pas cukup seribu kata.

Terima kasih telah setia membaca hingga akhir :)


 

 

 

 

Saturday, February 13, 2021

Cerita Setengah, Eps. 1



Bismillah.

Saat saya ketik ini, saya belum makan malam. Tapi, Alhamdulillah saya sudah makan siang. Yaa, memang saya mengetik ini saat sore hari, menjelang magrib.

Rasanya agak kaku menarikan jari jemariku di atas keyboard setelah hampir sebulan tidak mengetik (menulis) lagi.

Apa yang terjadi pada dirimu Hayana?

Yaa,, karena sibuk dengan rangkaian kata dua puluh ribu kata ilmiah, saya jadi tak menyempatkan waktu untuk mengetik seribu kata ini. Padahal sih, sebenarnya hanya karena manajemen waktuku yang belum baik hingga saya tak kunjung mengetik lagi disini.

Lalu, viewers berpikir… jadi sekarang Hayana tidak sibuk lagi sehingga kembali mengetik seribu kata ini lagi?

Hmmm,,, sepertinya karena membaca buku ‘Happy Writing’ sehingga saya termotivasi kembali untuk menulis (mengetik).

Sungguh, saya sarankan viewers membaca buku itu… kalau ingin menulis tapi belum memulai juga. Penulisnya sangat cerdas dalam mengungkapkan gagasannya. Saya salut.

Lalu, apa yang akan saya ceritakan?

Beberapa menit yang lalu, sang penguasa dapur menyuruh saya memasukkan benang ke dalam lubang jarum kecil. Viewers, tahu kan bagaimana cara memasukkannya?

Yapp… sesuai di pikiran mu. Saya tak ingin mengetikkannya disini. Dari cara tersebut, saya mengamati satu hal. Bahwa benang yang masuk ke dalam jarum harus kuat dulu baru akan berhasil. Pun seperti kita manusia. Kita itu kadang loyoh, lemas, bukan karena tak makan. Bukan itu maksudku. Tapi, kita loyo, lemas, lunglai (eh, bukan iklan) itu karena kita malas.

Kita??? Yaaa, kita. Kalau gak mau kita. Yaudah, saya.

Karena malas, kita jadi tak berhasil mewujudkan apa yang kita rencanakan. Walaupun di satu sisi, saya juga merasa dibalik adanya kegagalan juga menyiratkan hikmah yang penuh makna.

Seperti, saya yang suka gagal menyelesaikan seribu kataku selama seratus delapan puluh hari. Nyatanya, dari kegagalan itu saya jadi berpotensi memiliki jejak tulisan lebih 180 episode. 

Yapp, karena saya suka gagal menulis seribu kata per hari. Di satu sisi yang lain, sebenarnya kalau saya berhasil menuntaskan seribu kata ini lebih awal… maka saya bisa membuat komitmen lain. Misalnya, membuat novel barukah atau buku aneh. Hehe.

Saya ingin sekali punya buku aneh viewers… tepatnya sih, buku unik yang anti mainstream.

Tiga tugas video masih menghantui dalam otakku ini. Entah kenapa, saya malas sekali mengerjakan project video. Tadi, saya mau kerjakan tetapi ternyata headphoneku ketinggalan di kos. Saya butuh benda itu, karena sekarang di rumah (Darussalam house) lagi turun hujan.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Sungguh, malas tak boleh dibiarkan lama menetap dalam jiwa. Pun termasuk anggapan bahwa ‘ini sulit, itu rumit’. Karena sesuatu yang diyakini seperti itu, maka akan benar terjadi adanya. Jadi keraslah pada dirimu sendiri, Hayana. Rajinlah dan atur waktumu. Pun, termasuk kamu viewers.

Bukankah waktu itu takkan pernah kembali?

Hmm…

Saya teringat beberapa moment pekan lalu, di mana saya harus ujian online sampai yudisium online. Namun, moment paling berkesan saat salah satu dosenku meminta saya untuk ikut ke acara Broadcasting Camp. Meskipun sudah menolak 3 kali dengan alasan saya tak tau jalan (ya, memang saya tidak tau meskipun saya pernah kesana. Bisa dibilang saya lupa).

Akhirnya, seorang mahasiswi bersama juniornya yang punya mobil menjemput saya di kos. Pada akhirnya, saya pun memutuskan untuk menerima jemputan itu. Saat itu, saya penasaran… sebenarnya Allah ingin menunjukkan apa padaku hingga situasi seolah mendorongku harus kesana.

Malam itu gerimis, jalan agak jauh dan masuk lorong. Di mobil, saya hanya memperhatikan temenku yang bawa mobil. Menganalisis apa ia sudah lama bawa mobil. Hehe, bukannya takut… Cuma ingin tau saja. Tapi rasa penasaranku itu tidak saya lontarkan dalam bentuk pertanyaan. Saya malah sibuk bertukar informasi dengan temanku yang satunya. 

Kami membahas tentang kampung muallaf di pelosok Pinrang. Dulu, waktu ke sana… saya sempat berpikiran ‘bagusnya tinggal disini mengabdi tanpa social media’ sepertinya hidup akan lebih bermakna. Bukankah kadangkala, social media membuat riuh pikiran kita?

Ok, lanjut… di acara broadcasting camp.

Tiba di lokasi, mataku mencari ibu dosen yang menyuruhku datang. Seorang mahasiswa (junior satu tingkat bawah) menegur untuk singgah duduk bercerita menikmati kopi. Namun, kutolak dengan ucapan ‘saya setor muka dulu’. Yaiyalah, wajahku harus dilihat dulu sama si ibu dosen pengajak. Hehe.

Ibu dosen ternyata berada paling belakang lokasi. Di sana ada sebuah panggung. Saya mendekat sambil melempar senyum meskipun senyumku tak terlihat karena tertutupi masker. Kurasa ekspresi mataku pun tak terlihat karena lampu cukup redup malam itu. Ia sibuk mengatur mahasiswa lain agar merapikan karpet yang akan diduduki nanti oleh peserta lain.

Firasatku berkata, sepertinya nanti saya akan disuruh berbicara di depan mereka. Saya pun membayangkan apakah saya harus berkeliling di antara mereka atau cukup duduk tenang di atas panggung.

Saat mereka sudah berkumpul, saya mencoba mengenali wajah mereka satu persatu. Namun, hanya beberapa orang saja yang saya kenal. Kulihat juga ada Ilham. Seorang mahasiswa yang satu bulan lalu juga saya kunjungi rumahnya bersama bu dosenku (ya, kala itu saya diajak ke daerah pengungsian korban gempa. Betapa dag dig dugnya hatiku saat itu, mengingat gempa masih bisa datang kapan saja). 

Sepulang dari lokasi pengungsian (Majene dan Malunda), kami singgah di rumah Ilham yang berada di Polewali Mandar. Saat ke rumahnya, saya kembali teringat dengan project pembuatan video profil pesantren di tempat itu awal tahun 2020. Saat itu, desas-desus corona yang masuk ke Indonesia mulai terdengar.

Hal yang tak bisa kulupakan di rumah Ilham adalah rasa hangat keluarganya. Saya salut dengan kedua orangtuanya yang memberikan pelayanan terbaik bagi kami di tengah kesederhanaan. Mereka menyajikan durian, rambutan dan nasi ikan ayam (tolong jangan ngiler, hehe). Tapi, saya merasa aura rumah Ilham yang menentramkan sangat terasa dan ternyata itu karena di rumahnya setiap malam… anak-anak di kompleks rumahnya akan berkumpul untuk mengaji. Sungguh, rumah sederhana namun penuh berkah. Semoga Ilham dan keluarganya senantiasa diberkahi dan diridhoi oleh Allah swt. Aamiin.

Oiya, saya juga teringat dengan keponakannya yang imut. Gadis kecil yang sangat sopan. Kenapa? Karena anak kecil itu selalu bilang iye’. Sungguh, menggemaskan. Hehe

Eitss…. Kita kembali ke situasi Broadcasting Camp…

Setelah peserta berkumpul, bu dosen mempersilahkan saya dan Rahmat (junior satu tingkat bawah) untuk berbicara di depan peserta terkait LK Channel. Sungguh, saya kan tidak terlalu aktif di LK Channel (situs akun youtube, wadah para mahasiswa dalam mempublish karya). 

Jadi, saya mempersilahkan Rahmat untuk berbicara lebih awal. Sambil memerhatikan mereka menyimak materi Rahmat, saya berpikir… apa yang harus saya sampaikan di depan mereka? Di saat saya datang tanpa persiapan apa-apa. Otakku berputar-putar mencari ide, kira-kira topic apa yang mesti dibahas sehingga topic itu tidak hanya sekedar berlalu begitu saja? Saya ingin mereka mengingat dan merenungi apa yang saya sampaikan.

Viewers, karena sudah cukup seribu kata… Insyaa Allah, besok saya lanjut lagi yahhh… hehe. Terima kasih sudah setia membaca dari awal hingga akhir J Makna pelajaran apa yang kau temukan?

Tanete, 13 Februari 2021 pukul 17:50 wita.

Oiya, Barakallah fii umrik.. Maharani (tetangga kamar kosku). Doa melangit untuk ta' :)

Saturday, January 16, 2021

Apa?

 

Dokumentasi Pribadi, Mamasa [2018]

Bismillah.

Saat saya tulis ini, Alhamdulillah saya sudah makan. Hal yang sederhana, namun menjadi hal yang serius jika seseorang itu tidak makan. Tentu, para pejabat pemerintah juga harus merasa serius memperhatikan jika ada rakyatnya yang tidak bisa makan karena tidak punya apa-apa. Pun termasuk kita sebagai tetangga rakyat (eh, sesama rakyat).

Memang benar, rakyat harus berusaha sendiri. Namun, kita harus mengingat bahwa siapapun yang bekerja dalam pemerintahan maka mereka adalah pelayan rakyat.

Kenapa? Ah, sepertinya viewers sudah mengerti.

Jemariku berhenti sejenak menyentuh keyboard, lalu menoleh ke arah kiri. Tiga buah jendela terlihat jelas, dua tertutup dan satu terbuka lebar. Jendela yang terbuka itu tepat mengarah pada wajahku ketika saya menoleh kekiri. Udara segar menghampiri wajah, angina juga meniup helaian rambut yang kubiarkan terurai.

Terlihat langit mendung, ingatan tentang para korban bencana gempa di Sulawesi Barat dan bencana bajir di Kalimantan Selatan seolah mengundang rasa khawatir. Beberapa mungkin banjir bantuan, namun beberapa lagi krisis bantuan. Kulihat beberapa postingan di fb yang seolah berteriak meminta tolong. Posko mereka terjebak dan belum dijangkau oleh tim relawan.

Celengan akhirat yang bertebaran di dunia maya seolah juga mengundang pilu. Kenapa? Karena saya belum bisa mengisi setiap celengan akhirat setiap yang kulihat.

Niat hati ikut berbisnis, agar Allah memudahkan diri ini untuk bebas bersedekah sana-sini. Namun, saya teringat dengan gagasan Ippho Santosa (founder komunitas bisnis yang kuikuti) bahwa jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Memang benar, seringkali malah saat saya menghabiskan tabunganku untuk bersedekah, Allah mendatangkan tabungan lain. Saya benar-benar seringkali dibuatNya terkagum-kagum. MasyaAllah, Alhamdulillah.

“jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu.. hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal” (Kilas Ayat… Qs. Ali Imran: 160).

Angin bertiup terasa dingin, kulihat hujan akan turun. Meski sebelumnya, hujan turun di pagi hari. Tadi pagi juga, saya berjalan menuju salah satu dosen pemesan Britih Propolis. Sebenarnya saat malam hari, ia menyuruhku membawakannya. Namun, karena hujan turun dan angin kencang… akhirnya saya memutuskan untuk menunda membawakannya.

Selain itu, rasanya saya juga rindu jalan kaki di pagi hari. Kenapa? Hatimu bisa dibuat semakin bersyukur PadaNya, apalagi jika oksigen yang masuk ke dalam hidung adalah oksigen segar. Belum lagi, jika kamu bisa melihat embun yang terlihat menyegarkan sambil dihibur dengan suara harmoni makhluk bersayap yang sibuk bersiul seolah menyapa setiap raga yang mendengarkannya.

Yappp, saya suka udara pagi. Bahkan jika disuruh memilih, saya lebih suka sunrise (matahari terbit) dibandingkan sunset (matahari terbenam). Mungkin, karena pengaruh udaranya… makanya saya jadi lebih suka sunrise.

Sepulang dari mengantarkan British propolis, mendekati pintu pagar kos… saya melihat rumput… namun, kusebut itu bunga karena memang rumput itu memiliki bunga. Namanya putri Malu. Kalau didaerahku disebut Jabe (dalam bahasa Bugis).

Menurutku, tanaman itu unik. Karena punya animasi alami yang bergerak. Coba saja sentuh daunnya, maka kamu akan lihat gerakan secara perlahan. Tapi, saya suka bertanya-tanya… kenapa kalau hujan yang turun, justru daunnya kadang tidak kuncup. Kira-kira kenapa ya?

Apa karena air yang turun secara alami dari langit sehingga tanaman itu tidak bergerak. sungguh, saya penasaran. Hope, kelak saya akan diberitahu kenapa bisa seperti itu.

Layaknya, beberapa pertanyaanku yang sering terbersit dalam hati… secara perlahan saya pun menemukan jawabannya.

Pun, seperti doa-doa kita kadang terkabul bukan disaat kamu berdoa saat itu juga. Terkadang Allah mengabulkannya di waktu yang tepat.

Dulu, saat saya suka ditinggal sendiri di kos (karena teman semua pada pulkam), seringkali hati berbisik.. “kalau saja saya punya teman orang yang jauh rumahnya, pasti saya akan punya teman di rumah kos). Benar saja, lambat laun keinginan itu terwujud. Alhamdulillah, sekarang saya punya banyak teman di kos dan mereka jarang pulkam karena rumahnya lumayan jauh.

Di mana rumahnya?

Di Latimojong, Enrekang. Daerah dingin tempat tumbuhnya bunga Edelweiss (bunga abadi).

Sungguh, keinginan kembali terbersit… bahwa kelak saya ingin berada di puncak gunung latimojong. Sebelumnya, juga sempat terbersit tentang keinginan untuk berkujung di kaki gunung Latimojong.. benar saja lambat laun saya mendapatkan kesempatan ke sana melalui wasilah ajakan bu dosen yang pesan British Propolis itu.

Sepertinya, viewers akan berpikir… ini penulisnya lagi iklan yakkk? Sering kali menyebut British Propolis. Hehe…

Maklum saya, kalau menemukan sesuatu yang bagus maka akan sering kusebut-sebut.

Saya pun juga dalam berjualan sangat selektif kalau memilih produk jualan. Setidaknya pertanyaan tentang apa khasiat produk, bagaimana izin dan kehalalan, serta bagaimana system jualnya harus terjawab dulu. Kalau semuanya aman, halal dan berfaedah, yaudah saya langsung deal. Apalagi foundernya, benar-benar aktif mementoring kami.

Wuahhh… kok saya jadi bahas itu. Hehe, jujur ini supaya tulisannya bisa cepat sampai seribu kata. Walaupun sih, apa yang saya tulis sebelumnya itu beneran… bukan hoax apalagi kalimat hinaan. Iyakan?

Rasanya, bagus juga menulis di jam-jam sore begini. Karena biasanya kalau malam, saya akan sibuk membahas mata-mata berkaca, mata mulai mengantuk. Kadang pula, saya sampai tak konsen bahkan gagal menyelesaikan seribu kataku hanya karena tak sanggup melawan ngantuk. Hehe. Kalian bisa lihat di wattpadku (hayana77) tentang kegagalanku dengan seribu kata. Bikin senyum-senyum sendiri pokoknya kalau dibaca.

Oiya, viewers… apa kamu sudah mulai menulis seperti ini?

Ayolah… dicoba-coba menulis. Minimal ceritakan apa yang kamu lalui setiap hari dan hal positif apa yang bisa dibagikan melalui tulisanmu.

Pun seperti tulisan receh ini, kuharap kalian bisa menangkap sesuatu hal yang positif. Bukan dinyatakan postif yakkk, yah walaupun juga boleh selama itu yang baik-baik. Hehe.

Semoga Allah memberikan kabar bahagia tak terduga, setelah Anda membaca ini. Aamiin.

Sudah di angka delapan ratusan kata, lalu saya menulis apa lagi?

Tunggu… saya memikirkan apa yak judulnya tulisan hari ini. Masalahnya, memang tulisanku topiknya kemana-mana tapi sungguh saya tak peduli. Karena targetku adalah menulis seribu kata per hari… saya tak peduli bagaimana sistematikanya, yang jelas sebisa mungkin bisa tetap menulis seribu kata. Pembiasaan menulis, viewersku.

Lalu, pertanyaannya kapan kamu mulai menulis? Jangan bilang kamu tak pandai menulis. Semua orang bisa menulis, eh maksud saya mengetik juga.

Saya ulangi, “semua orang bisa menulis/mengetik, selama hatinya bisa berbicara meskipun tanpa suara”.

Tapi, muncul pertanyaan “yang cerewet itu apa hati atau otak? Maksudku yang suka berbicara itu sebenarnya siapa? Otak apa hati?”.

Hmmm… silahkan memberi tanggapan viewers bahkan meskipun itu tanggapannya hanya ada di dalam otak dan hatimu. Tentu, saya tak akan tahu karena memang saya bukan Maha Mengetahui. Tapi, saya yakin Allah pasti Maha Mengetahui. Maka berhati-hatilah viewers… dan jangan bersedih karena Allah selalu Mendengarmu.

Ok, pertanyaan saya belum dijawab. Kapan kamu mau konsisten menulis?

Haa? Saya tidak dengar. Eh, saya tidak baca.

Atau kamu sudah menulis tapi saya tidak tau. Yaudah, apapun itu… saya berharap kita semua bisa mendapatkan RidhoNya karena aktivitas baik kita, apapun itu dalam artian apapun yang kita lakukan selama masih bernafas di dunia yang fana ini.

Jika viewers menganggap tulisan receh ini berfaedah silahkan sebarkan agar viewers menjadi jembatan (share) sampainya tulisan ini ke otak yang lain. Namun, jika viewers ingin memberikan tanggapan berupa pertanyaan setuju maupun kritik saran, tentu boleh. Silahkan kirimkan via DM Instagram @hayanaa atau email Hayanaheart@gmail.com.

Terima kasih telah membaca hingga tuntas ‘tak perlu subscribe yakk’ hehe dan maafkan jika ada yang tak berkenang pada segumpal daging (hati). [Parepare, Sabtu 16 Januari 2021]. Hayana J

 

 

Friday, January 15, 2021

Kata Kuadrat

 

Dokumentasi Pribadi, Mamasa [2018]

Bismillah…

Salah satu cara agar kita sadar waktu yakni dengan menulis daily seperti ini. Karena kita akan bisa mengamati apa yang terjadi dalam sehari lalu menuangkan dalam bentuk rangkaian kata, tentu akhiri tulisanmu dengan keterangan tanggal dan waktu. Hal ini juga akan merawat ingatan kita. Yap, seperti tulisan sebelumnya (kemarin).

Kali ini, saya ingin membahas kata ‘tiba-tiba’.

Tiba dan tiba-tiba, tentu memiliki arti yang berbeda meskipun berasal dari kata yang sama. Namun, pengulangan kata sepertinya memberikan makna yang berbeda. Otak ini segera tertuju pada ingatan berbagai postingan tentang duka yang melanda Sulawesi Barat.

Apa yang terjadi?

Sepertinya, viewers sudah tahu dan sudah melihat berbagai postingan yang memperlihatkan kondisi dua kabupaten yakni Majene dan Mamuju. Meskipun sebenarnya di luar pulau Sulawesi, pulau Kalimantan juga terkena musibah yaitu banjir di Kalimantan Selatan. Ketika disebut Kalimantan, pikiran ini tertuju pada abang yang sedang merantau di sana. Meskipun ia tinggal di Kalimantan Timur, tetap saja otak ini menaruh secercah kekhawatiran padanya.

Ok, kita kembali ke kata ‘tiba-tiba’.

‘tiba-tiba’ kata sederhana namun mengandung unsur kecepatan, tak terduga (tak disangka). Ketika kita berada pada situasi ‘tiba-tiba’ bisa jadi sepaket dengan rasa sedih ataupun bahagia.

Namun, situasi ‘tiba-tiba’ yang melanda Sulawesi Barat meninggalkan duka bagi para korban yang terdampak akibat gempa bumi.

Rasanya dulu waktu kecil, bencana hanya sering terjadi di luar pulau Sulawesi tapi kini berbagai bencana menerpa tetangga kabupatenku. Seolah jiwa ini, ikut larut membayangkan bahwa tempatku hidup bisa jadi akan mendapatkan pula ‘situasi tiba-tiba’ yang tak diinginkan.

Situasi ‘tiba-tiba’ bukan hanya menyangkut bencana alam namun juga kehilangan sosok ataupun perubahan diri.

“tiba-tiba baik, tiba-tiba jahat” adalah dua hal yang berbeda namun datangnya bisa jadi memiliki kecepatan yang sama, mungkin.

Semoga kita selalu berada posisi ‘tiba-tiba baik’ artinya bukan karena ada maksud yang tersembunyi namun karena Allah memberikan petunjukNya (hidayahNya) pada kita. Karena, siapa lagi yang akan memberikan petunjuk?

(Tunjukilah Kami Jalan yang Lurus).

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Hujan lembut turun menempa bumi, meski sebelumnya hujan keras yang disertai angin juga turut eksis. Mataku yang mulai berat dikarenakan ‘tiba-tiba’ merasa mengantuk. Namun, kuingat tentang komitmenku seribu kata dalam sehari mesti segera dituntaskan.

Memang, ada banyak hal yang patut dituntaskan bukan hanya soal di dalam diri (internal) tetapi juga di luar diri (eksternal).

Hmmm.. tentang ‘tiba’tiba’

Kejutan apa lagi yang akan diperlihatkan? Tentu, sama sekali saya tak marah dengan pencipta. Namun, Allah bisa saja sebaliknya menjadi murka pada kita jika berkali-kali peringatannya menyapa raga ini. Namun anehnya, kita masih pura-pura tidak sadar.

Kemungkinan terburuk seringkali menghantui dalam otak kecil ini. Namun, keyakinan padaNya mesti dikuatkan akarnya agar hasilnya selalu menemui titik akhir yang terbaik.

Atas segala apapun yang terjadi, tentu kita harus pandai memaknai. Ya, hari ini saya dilintaskan caption bahwa sedih L bisa diubah menjadi senyum J dengan menggunakan lensa pemaknaan. Lalu, di mana bisa mendapatkan lensa itu?

Tentu lensa pemakna ini tidak bisa ditemukan hanya dengan mengandalkan pasar ataupun gugel. Lensa pemakna terbuat dari rasa syukur dan intropeksi.

Dua kata tersebut memang sangat sederhana namun besar manfaatnya. Ketika semua orang memiliki rasa syukur dan senantiasa berintropeksi, sepertinya hidup akan lebih menentramkan meskipun di situasi yang tidak baik-baik saja. Lalu, maukah kamu mewujudkan cita-cita hidup tentram itu? Maka mulailah dari diri sendiri.

‘tiba-tiba’ hujan yang tadinya soft menjadi hard.

Bayangan para relawan yang berjuang membantu para korban disana mengusik pikiran. Hati-hati yang ikut merasa beramai-ramai membuat penggalangan dana secara online dan offline. Saya mencoba menutup mata, lalu kemudian membuka kembali. Akhirnya, saya kembali menemukan mataku yang berkaca-kaca. Seolah rasa ngantuk terus menggodaku untuk menunda tulisan seribu kata ini.

Kali ini, saya benar-benar merasa mengantuk. Namun tulisan ku baru di angka lima ratusan.

Lalu saya harus menulis apa lagi?

Saya memperbaiki posisi duduk, kuharap viewerspun memperbaiki posisi duduk sekarang (jika duduk).

Lalu, viewers…

bagaimana tanggapanmu tentang ‘siatuasi yang tiba-tiba” terjadi kemarin itu?

Saya teringat dengan postingan di facebook tentang kita yang kehilangan tiga hal di awal tahun 2021.

Pertama Bumi (bencana alam), Langit (tragedy pesawat) dan yang ketiga cahaya yakni saat meninggalnya Syekh Ali Jaber yang merupakan salah satu gudang ilmu dan referensi teladan.

Berbagai video ceramahnya di masa hidupnya, hari ini kembali tersebar. Tentu, sungguh beruntunglah seseorang jika raganya telah dimakan ulat, namun amalnya masih terus bertambah. Lalu, apa yang kitak lakukan agar bisa berpeluang mendapatkan amal jariyah?

Hmmm… hal kecil bisa dimulai dengan menulis.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Saya benar-benar bingung dan mengantuk harus menulis apa lagi. Keinginan untuk baring, terbersit.

Jangan baring Hayana!!! Karena saat kau baring maka tulisanmu ini tidak akan selesai.

Lalu saya harus menulis apa lagi?

Bolehkah dengan kalimat pengulangan seperti kata ‘tiba-tiba’ (kata kuadrat).

Nyatanya, jika kita seringkali diberi peringatan seharusnya membuat kita sadar bahwa kita harus berubah menjadi insan yang berpeluang diridhoi OlehNya. Aamiin. Semoga saja

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Bolehkah saya mengulangi?

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Jika viewers menganggap tulisan receh ini berfaedah silahkan sebarkan agar viewers menjadi jembatan sampainya tulisan ini ke otak yang lain. Namun, jika viewers ingin memberikan tanggapan maupun kritik saran, tentu boleh. Silahkan kirimkan via DM Instagram @hayanaa atau email Hayanaheart@gmail.com. Terima kasih dan maafkan. [Parepare, Jum’at 15 Januari 2021]

 

 

 

Thursday, January 14, 2021

Cara Merawat Ingatan

Dokumentasi pribadi 


Bismillah.

Alhamdulillah. Saat saya tulis ini barusan sudah minum susu hangat dan sholat isya. Meskipun belum makan malam tapi setidaknya perutku sudah terisi.

Rasanya malas sekali makan nasi… padahal ada telur dadar bersama udang kecil. Hmm… mugkin karena kurang cabe makanya saya kurang bersemangat menikmati makanan. Padahal yak, cabe itu kan pedas. Tapi, kok suka bikin rindu. Ya, meskipun seharusnya saya bersyukur karena ada yang bisa dimakan. Bagaimana yang di luar sana, bahkan beras mereka pun tak punya.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Maafkan hambaMu ini yang kadang lalai dalam bersyukur.

Hari ini, kita mendapat dua kabar duka. Pertama, berpulangnya ke Rahmatullah ulama asal Madinah yang mengabadikan hidupnya di Indonesia yaitu Syekh Ali Jaber. Mungkin, saya adalah orang yang terlambat mengenalnya. Ia sering muncul di tv, namun saya jarang sekali menonton tv. Saya baru mengenal almarhum saat masyarakat Indonesia heboh karena kejadian penusukan alm. Syekh Ali Jaber oleh orang yang tak dikenal. Saat itu, banyak teman Whastaapp saya yang memasang status tentang dirinya. Disitu, saya pun mencari siapa itu Syekh Ali Jaber. Video ceramahnya memang banyak tersebar, namun saya sama sekali belum pernah mendapatkannya. Ya, mungkin karena selama ini saya hanya sering berlangganan ceramah ustad Adi Hidayat, Ustad Abdul Somad, Ustad Hannan Attaki, Ustad Das’ad Latif dan ustad-ustad lain yang popular di beranda dunia mayaku.

Di lain kesempatan, ketika bergabung dengan komunitas bisnis British Propolis, disitu saya kembali bertemu secara virtual dalam berbagai seminar online yang dilaksanakan oleh founder British Propolis, Ippho Santosa.

Syukur, almarhum meninggal saat dinyatakan negative covid-19 (sembuh dari virus viral). Meninggalnya benar-benar banyak membuat orang lain syok, tidak menyangka. Salah satu teman, seorang presenter TVRI Sulawesi Barat menulis caption dalam status videonya “Ramadhan tanpa Syekh Ali Jaber”. Saya pun refleks komen, bahwa kitapun belum tentu akan bertemu dengan ramadhan.

Ya, semoga saja masih diberi kesempatan. Aamiin.

Di beranda facebook maupun whatsApp, foto ucapan belasungkawa menghiasi beranda (kabar berita). Bisa dibilang, hampir semuanya mengunggah informasi tentang kepergian manusia pecinta Al-Qur’an itu.

Di video Deddy Corbuzier pun juga membahas tentang sosok alm. Syekh Ali Jaber. Raut wajah sedih tampak melekat pada manusia bertubuh kekar itu (akrab disapa om Deddy).

Beberapa tulisan pun, berseliweran di facebook… tentang ulama yang wafat berarti sumber ilmu juga menghilang. Yap, benar saja kehilangan ulama yang kaya ilmu tentang agama Islam akan mengurangi 1 sosok dalam penyebaran syiar Islam. Memang di Indonesia mayoritas muslim, namun karena kualitas iman, ilmu, amal yang berbeda sehingga penting ada sosok-sosok yang berperan dalam mengingatkan para manusia khilaf, pun termasuk saya.

Semoga saja, berpulangnya satu ulama akan disusul puluhan ulama baru yang beradab dan berilmu. Pun, kita sebagai insan yang mengaku Islam, sudah seharusnya memperkaya dan memperdalam wawasan keIslaman kita. Kadang sih, sering muncul pertanyaan dalam hati “sudah seberapa banyak pengetahuan Islam yang kamu tahu?”. Jangan-jangan bahwa pengetahuan dasar-dasar agama pun kita masih jauh di bawah standart. Sudah sepantasnya, kita menjadi wakil-wakil ulama untuk mensyiarkan ajaran agama Islam. Yap, ketika kita belum mampu mensejajarkan diri dengan para alim ulama.

Kepergian para ulama, menjadi nasehat tersendiri. Apa kontribusi kita pada Islam dan sudah seberapa bagus bekal kita menghadap Sang Illahi?

Masihkah kamu tidak percaya bahwa segala sesuatu akan mendapat balasan? Masihkah kamu ragu hingga membuat kamu sering menunda perintahNya dan menyegerakan laranganNya? Masihkah kamu malas-malasan dengan berlindung pada kata ‘nanti saja’. Padahal titik usia terus melaju pada angka batas hidup (final life).

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim…

Mampukan kami agar terus selalu berdoa, bersujud, memohon ampun PadaMu. Betapa celakanya kami, jika di hari kemudian kami berakhir pada tempat yang mengenaskan.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Setelah kabar duka kematian tersebut, lalu status whatsApp kembali heboh dengan guncangan gempa yang terjadi di laut Majene, Sulawesi Barat.

Mungkin, ini salah satu menjadi kekhawatiran orangtuaku agar tetap tinggal di rumah. Masalahnya, bisnis BPku berjalan lancar jika berada di kota kelahiran presiden ketiga. Selain itu, saya lebih focus beribadah PadaNya dan bisa aktif pada berbagai kegiatan ‘kesukarelawanan’.

Tetiba mataku mengantuk, saat tulisan seribu kataku ini baru di angka enam ratusan kata. Kipas Miyako terus berputar meskipun di luar kamar sedang turun hujan (gerimis). Mataku semakin berat saja dan mulai berkaca-kaca.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Sebelum sholat Isya tadi, sambil menunggu… saya membaca sebuah buku yang berjudul Happy Writing karya Andrias Harefa. Didalam bukunya, menarik sekali, bahwa ia memberikan definisi menulis yang berbeda dari kebanyakan orang. Saat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan definisi menulis yakni (1) membuat huruf, angka; (2) melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang dan membuat surat) dengan tulisan; mengarang cerita; (3) menggambar, melukis; (4) membatik. Sedangkan Andrias menjelaskan bahwa definisi menulis yang benar adalah definisi yang mendorong kita menulis dan terus menulis. Ia menyebutnya definisi “emosional”. Ia memberikan contoh, misalnya bagi si A menulis itu adalah aktualisasi diri; bagi si B menulis adalah menafkahi diri; bagi si C menulis adalah soal mendesain dengan metodologi tertentu; bagi si D menulis adalah melepaskan beban-beban emosi negative. Katanya, sepanjang definisi menulis membuat Anda menulis maka itulah definisi yang benar.

Lalu, pertanyaanya… kapan kamu mau menulis? Lebih tepatnya kapan kamu mau berkomitmen menulis?

Apapun alasanmu dalam menulis, tulislah tulisan yang berfaedah… sekecil apapun faedahnya. Tak jarang saya menemukan komentar di whatsApp bahwa kata mereka saya pandai merangkai kata. Sejujurnya, itu hanya akibat dari latihan (pembiasaan menulis di waktu usia anak-anak). Saat itu, saya hobbi menulis diary. Isinya pun hanya seputar runtutan cerita sederhana tentang aktivitas apa yang saya lakukan dalam sehari itu. Sungguh, saya menulisnya pada waktu itu agar saya tidak lupa. Dan sepertinya, alasan itu masih melekat hingga sekarang.

Kenangan yang berlalu tapi dituliskan (diketikkan), rasa (feel) kenangannya akan masih terasa saat kita kembali membaca tulisan kita. Menariknya, orang yang membaca tulisan kita pun akan ikut merasakan feelnya. Meski di otak mereka akan bermunculan persepsi tentang diri penulis. Tapi, jangan pedulikan itu…. Selama yang kamu tulis, bukanlah tulisan yang mengandung komposisi hoax lagi menghinakan sesuatu hal.

Banyak yang bilang, tulisan akan membuat penulis abadi. Hmm… sepertinya belum tentu. Tapi, setidaknya biarkan tulisan mu menemui pembacanya. Biarkan rangkaian katamu memasuki otak kecilnya. Semoga saja, kita bisa saling menulis dan saling membaca agar kita bisa saling menginspirasi (saling mengingatkan) satu sama lain.

Karena pengamatanku yang terungkap melalui rangkaian kata, belum tentu sama dengan pengamatanmu. Bisa jadi, kamu mampu melihat sesuatu dari sisi yang berbeda meskipun objek kita sama. Lalu, katamu… Aku tak sepandai dirimu dalam merangkai kata? Kalau begitu cobalah.. lagi dan lagi. Sambil memperbanyak membaca tulisan orang lain agar memperkaya referensi ide.

Selamat mencoba. Dengan senang hati akan membaca tulisanmu, saudariku… sesama keturunan kakek Nabi Adam dan Nenek Hawa  J Terima kasih telah membacanya dari awal hingga akhir (tuntas). Maafkan jika ada yang tak berkenang di hati. Jika biasanya saya hanya mengupload di wattpad, kali ini saya publish juga di blog pribadi untuk diteruskan di grup facebook Rumah Literasi Perempuan Gelora Parepare. 

[Parepare, 14 Januari 2021 pukul 21:12 wita]

 

 


Popular Posts

Translate

"Beloved"

"Beloved"

Followers