Pages

Artikel (Kode Etik): Krisis Kejujuran Hasilkan Potensi Mahasiswa Bernilai Palsu

Artikel ini dibuat dalam rangka partisipasi mengikuti Dakom Award 2016. Lomba blog. Yuk, Baca Selengkapnya...

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare

STAIN Parepare merupakan satu-satunya perguruan tinggi negeri yang ada di kota Parepare. Yuk, Kunjungi Websitenya...

Mari Bersedekah

Yuk, lihat iklan video karya Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam. STAIN Parepare

filsafat islam

Ingin Menjadi Seperti Pohon

Mengapa inging menjadi pohon? Yuk, Baca selengkapnya

Sunday, December 6, 2020

Indonesia Mayoritas Islam, Namun Tidak Semuanya Sadar...



 Sebelumnya

Tulisan ini sudah diupload di akun wattpad @Hayana77.

---

Apa yang saya mulai, seharusnya saya tuntaskan.

Kalimat itulah yang membuat si pengetik bangkit dari tidurnya lalu bergegas membuka laptop antic miliknya.

Ditemani stick renyah snack, si pengetik dari tadi mulai mengetik.

Apa yang harus diketik? Pikirnya.

Di dunia maya heboh dikarenakan pengumuman yang seharusnya tanggal 22 Mei tetapi ternyata muncul sebelum waktunya. Berbagai doa pun terpampang nyata di beranda facebook, mendoakan si penyelenggara.

Kita ini bukan Maha Mengetahui

Tetapi Sang Maha Mengetahui bisa saja memberi tanda-tanda informasi. Entahlah, siapa yang benar dan siapa yang keliru. Yang jelas si pengetik yakin segala sesuatu akan ada balasannya baik itu kebaikan maupun keburukan.

Cek saja di QS. Al Zalzalah ayat 7 & 8

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula".

Ibnu Jauzi menyebutkan 5 pendapat ulama tafsir mengenai makna dzarrah:

1. Kepala semut merah (ibnu Abbas ra)

2. Butiran tanah (Yazid bin al- A'sham dari Ibnu Abbas)

3. Semut yang paling kecil (Ibnu Qutaibah dan Ibnu Faris | Ulama ahli bahasa)

4. Dzarrah adalah biji Khardalah /tanaman mustard (at Tsa'labi)

5. Titik debu yang Nampak di udara ketika ada celah dinding terkena sinar matahari (at Tsa'labi)

Kelima uraian tersebut merupakan jawaban dari Ustad Ammi Nur Baits (dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Indonesia mayoritas Islam, namun tidak semuanya sadar dan bertindak sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini dipengaruhi hidayah yang tak ada dalam hatinya.

Hidayah itu bukan pemberian dari sesama manusia namun pemberian Sang Maha Kuasa. Namun, jika hidayah telah diberikan tapi si penerima tidak mengambil sesegera mungkin bisa jadi ia tidak akan berubah.

Dalam dunia nyata, si pengetik mengamati jalan hidup seorang gadis tomboy.

Setiap harinya rambutnya terurai, sibuk telfon-telfonan dengan kekasihnya bahkan tak jarang mereka bertemu langsung di rumah si gadis tomboy itu.

Menjelang memakai seragam putih abu-abu, gadis itu mulai berkomitmen memakai khimar meskipun kesan tomboy dengan memakai celana panjang masih sering dikenakan. Hingga dibangku perkuliahan, hidayah kembali disodorkan untuknya untuk menutup aurat secara sempurna sampai saat ini.

Ia istiqomah atas pilihannya meskipun berbagai tatapan serta cibiran yang menyudutkan seringkali menghampirinya. Ia sama sekali tak peduli karena baginya Ridho-Nya lah yang menjadi target hidupnya.

Saat ia memulai mengambil jalan yang lurus, berbagai kabar bahagia pun datang apalagi sikap sabar dan syukur terus mengakar dalam hatinya. Si pengetik bisa melihat bagaimana progress perbaikan hidupnya.

Menurut si pengetik, kalau hal-hal yang baik segera dilakukan maka tunggu kabar baik juga akan segera datang.

Entahlah, apakah begitu rumusnya.

Oiya, tentang ayat yang trending hari ini, QS. An Nisa ayat 108

"Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka. Ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhoi. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan".

Ada maksud mengapa ayat ini dipopulerkan bertepatan dengan pengumuman Kepala Negara. Entahlah, setiap orang bebas menyimpan maksud dalam pikirannya.

Siapa sih yang bisa menghalangi seseorang untuk berpikir tentang sesuatu?

Kau bisa saja menyuruhnya diam, tapi tidak dengan pikirannya.

Malam ini, malam ke tujuh belas Ramadan. Sudah sejauh mana tilawahmu?

Menurut ust. Adi Hidayat yang baru saja dinonton oleh si pengetik melalui instagram kajiannya, mengatakan bahwa tilawah itu lebih baik dilakukan. Karena tilawah itu meliputi membaca al Qur'an disertai membaca arti bahkan jika memungkinkan turut membaca tafsirnya. Jika dilakukan, maka akan memberikan kesan yang lebih mendalam bagi si pembaca.

Cobalah dan rasakan apa yang terjadi di hatimu apalagi jika kamu membaca tafsirnya. Karena jika hanya mengandalkan terjemahan ayat, kau akan sedikit merasa pusing karena penjelasan yang kurang lengkap.

**

Jika presidennya lanjut dua periode, si pengetik berharap kualitas kerja untuk rakyat lebih ditingkatkan lagi. Dua kali lipat ataupun dua puluh dua kali lipat, yang jelas jangan sampai hanya jalan di tempat dan lebih parah kalau jalan mundur.

Memangnya salah kalau jalan mundur?

Mobil saja butuh roda berputar mundur lalu negara?

Entahlah...biarkan orang menciptakan persepsinya masing-masing.

Mari kita lebih memanfaatkan waktu di bulan Ramadan ini. Jangan sampai bulan Ramadan yang sering diibaratkan tamu berlalu begitu saja. Pergi tanpa meninggalkan sesuatu berharga bagi si tuan rumah.

Sesuatu yang berharga itu bukan benda yang bisa dilihat tetapi ia berwujud pendirian, prinsip, motto, yang memungkinkan si pemiliknya berkomitmen untuk melakukan sesuatu hal baik.

Baik?

Seharusnya baik selalu bergandengan kata benar.

Baik dan benar.

Karena baik belum tentu benar tapi benar pastilah baik.

Contoh: orang korupsi dianggap baik karena bisa meningkatkan pendapatan dan perbaikan kualitas ekonomi keluarga namun tidak baik bagi orang lain. Korupsi menjadi suatu tindakan yang tidak benar.

Buktinya kalau ada korupsi dianggap salah dan dimasukkan penjara meskipun masih banyak juga yang tetap bebas berkeliaran.

Apa semua orang pernah korupsi? Korupsi waktu mungkin

Entahlah, tapi seorang dosen si pengetik beberapa pekan lalu berucap.

"Mengapa para koruptor itu disimbolkan dengan tikus? Kenapa bukan hewan yang lain?"

Kenapa coba?

Lihat saja bagaimana kelakuan Jerry dalam serial cartoon Tom & Jerry. 

Jerry selalu saja mengendap-endap untuk mencuri keju.

Lalu dalam dunia nyata, jika seekor tikus masuk ke dalam kamarmu atau bahkan menggigit dokumennmu, seberapa kesal kah kamu?

Lalu, apakah kita akan juga merasa kesal melihat koruptor?

Kalau begitu cocok.

Tapi tunggu dulu, tidak semua tikus itu menjengkelkan. Beberapa spesies tikus justru menjadi korban percobaan bahan-bahan kimia. Makhluk kecil itu dijadikan percobaan sebagai pengganti manusia. Berarti benar, ada kesamaan manusia dengan tikus.

Tiba-tiba, si pengetik melirik sudut kamarnya. Di sana sering muncul penampakan.

Mirip anak kucing tapi bukan. Si pengetik sangat tidak menyukai ekornya apalagi tingkahnya yang sok cari perhatian. Dialah si tikus, si makhluk serba salah.

Salah?

Selain orang yang sering disalahkan. Ada juga benda loh.

Bantal.

Bantal itu sering disalahkan. Apakah kamu pernah menyalahkannya? Kalau belum mau coba?

Orang yang suka ngantuk dikatakan muka bantal.

Syukur-syukur kalau si muka bantal tidak selalu meminum susu bantal menjelang tidur. Setelah tidur semalaman, bukannya berterima kasih dengan bantal ia malah menyalahakan si bantal.

Sungguh, si pengetik jadi pengen minum susu bantal. Yang dipetik dari lemari ice.

Adakah?

Kalau gak ada ya udah. Si pengetik kembali fokus dengan tulisan seribu katanya. Sebenarnya sudah tidak ada lagi yang ingin dituliskannya. Tapi karena belum cukup, jadi ia terus mengetik dan kamu juga masih setia membacanya hingga akhir. Ok, terima kasih. Sepertinya tulisannya sudah melebihi seribu kata. Jangan bosan yah. Tulisan ini tanpa edit soalnya si pengetik mulai ngantuk lagi. Harap maklum (Parepare, 21 Mei 2019 | 23:20 Wita).

***

Oiya, siapa tau orang-orang tersayang sedang membutuhkan ini. Cermati khasiatnya ;-)








Monday, August 3, 2020

Anti Mainstream, Tiap Hari Rela Qurban Perasaan


Setiap kali hari perayaan Idul Adha, berbagai postingan muncul mulai dari yang serius sampai yang serius lucu. Misalnya katanya yang diqurbankan itu hewan bukan perasaan.

Hmm…. Mungkin maksudnya ingin meyepadankan kata qurban dan korban ya?

Kutanyakan pada Om Gugel, apa sih arti qurban? Yang sering terlintas di otak kecil kan tentang pemotongan hewan sapi atau kambing dengan niat yang berbeda-beda bagi setiap pemilik hewan. Ada benar-benar karena Sang Pencipta dan ada yang benar-benar karena sang nitizen (ciptaan) semata.

Kata Qurban berasal dari bahasa Arab Qariba yang berarti dekat atau mendekatkan. Qurban yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lalu apa hubungannya dengan perasaan? Menurutku tak mengapa sih jika kita masih dalam posisi korban perasaan artinya belum bisa qurban hewan sapi atau kambing.

Kenapa?

Ya, kenapa coba.

Coba dipikir sambil menatap mata sapi, bukan telur mata sapi yakkk. Hehe (transisi teks non komersial).

Ada dua tipe orang terkait tentang Qurban dan Korban:

Pertama, orang yang berqurban  karena niatnya lillahi ta’ala maka sebelumnya ia akan mengorbankan perasaan egonya. “Mendingan uangnya buat ini, buat itu. Ngapain sih harus beli hewan itu?”, bisik pikiran buruk yang merasuk kalbu. Perasaan seperti itulah yang harus dikorbankan agar tidak diikuti.

Kedua, orang yang berqurban karena niatnya nitizen, maka sebelumnya ia juga berkorban. Tentu, ia berkorban materi. “Ikut Qurban aja, kan bagus tuh dicap sebagai horang kaya,” bisik pikiran buruk merasuk kalbu. Maka ia pun rela uang gaya hidupnya selama setahun dialokasikan untuk membeli hewan populer di bulan Zulhijjah itu.

Kedua tipe orang tersebut sama-sama berkorban. Namun, orang pertama berkorban sebanyak dua kali yakni korbankan ego dan mengorbankan materi sedangkan orang tipe kedua hanya mengorbankan materi saja. Egonya tetap dipeluk erat dan tak ingin dilepas gitu kayak boneka. Hehe (aku bukan boneka, boneka. Terlintas dehhh).

Terlepas dari kedua tipe orang tersebut, sejatinya dan semestinya lagi selayaknya kita harus senantiasa berqurban dan berkorban sepanjang hayat. Berqurban (berusaha mendekatkan) perasaan dengan Sang Maha Pencipta dengan cara mengingatNya dan berkorban perasaan negative untuk menemukan diri yang lebih positive think and act (pikiran dan tindakan).

Apa manfaatnya?

Pertama, perasaan yang merasa dekat dengan Sang Pencipta Allah SWT maka kita akan berusaha selalu untuk melaksanakan seluruh perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Kita akan selalu merasa mendapat pengawasan DariNya dalam bentuk pantauan oleh kedua malaikatNya Atid dan Rakib.

Kedua, sesuatu yang dikorbankan dapat berarti melepaskan. Nah, melepaskan perasaan negative (negative feeling) akan memengaruhi pikiran dan tindakan kita. Tentu, ini akan berdampak pada orang-orang yang berada di sekitar kita, bukan hanya makhluk nitizen virtual semata.

Bayangkan, jika setiap hari Anda selalu berqurban dan berkorban setiap saat disertai keikhlasan. Tentu hidup Anda bahagia lagi menentramkan. Tapi tolong jangan hanya dibayangkan ya. Karena bayangan akan menghilang dan tak berbekas jika tidak diupayakan secara nyata.

Jadi, jika ada yang melirikmu karena masih qurban lagi korban perasaan. Maka balaslah dengan senyum panjang kali lebar. Maksudnya, panjangkan durasi senyum sampai mereka heran, dan lebarkan senyummu sampai gigi bersihmu terlihat menyilaukan mata. Tentu sikat gigi dahulu, hehe.

Aura kebahagiaan yang Anda tampakkan akan menjadi aura keheranan bagi mereka. Anda merasa bahagia lagi tentram, sedangkan mereka… (tolong lanjutkan sediri).

Tolong ‘ngehlah’ bahwa kebahagiaan itu sangat mudah didapatkan meskipun tanpa melibatkan orang banyak lagi harta karun.

Banyak yang bilang bahwa kebahagiaan itu ada di dalam hati, namun seberapa pandaikah kita menemukan titik-titik kebahagian itu? Di tengah godaan jin, setan dan sejenisnya yang semakin pandai menggoda hati dan pikiran kita.

Saat saya mengetik ini pun, beberapa kali saya digoda untuk berhenti menarikan jari jemari di atas keyboard saat saya menemui momen blank idea. Namun, kuluruskan niat lagi dan lagi bahwa saya ingin Anda tetap tersenyum lebar lagi manis saat ditanya “Kamu, masih korban perasaan?”

Tuh kan, Anda mulai tersenyum. Lalu Anda bertanya kepadaku, tahun ini udah berqurban hewan atau masih qurban perasaan? Tentu senyumku tak dapat kutampakkan secara nyata. Hehe. Maka tolong wakili saja saya terseyum di wajahmu, sekarang.

Eitss…. Masih ada dua hal. Pertama maafkan kata yang menyinggung dan kedua terima kasih sudah baca dari awal sampai akhir. Hayatilah sepanjang hayat, dari Aku si Hayana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Monday, May 20, 2019

Day 2: Dua



Seorang gadis berkata,
“Sungguh, akan meriahnya jika kita mempunyai sepuluh orang bersaudara. Kau bebas dengan siapa bermain” ucapnya pada teman ngobrolnya.
“Penilaianmu keliru. Karena kau tak pernah merasakan bagaimana jika kamu sendiri dan yang lainnya bekelompok,” bantahnya sambil meminum seteguk kopi asli tanpa gula.
Jika gula itu manis dan semut itu suka yang manis-manis. Maka semut seharusnya makhluk yang paling manis.  Semut itu selalu lihai menemukan makanan manis dan bukannya memakan sampai habis, semut justru akan kembali ke sarannya lalu memberitahu kepada semut-semut lain.
Mereka akan saling bekerja sama untuk memindahkan makanan itu lalu menyimpannya di tempat yang aman.
Aman?
Apakah tempat aman itu sudah berarti nyaman? Apakah nyaman itu akan membuat hati ikut nyaman?
Tempat aman belum tentu membuat nyaman, tapi tempat nyaman belum tentu juga seseorang akan merasa puas. Buktinya banyak orang yang bela-belain keluar dari zona amannya bahkan zona ternyamannya.
Lalu, ada pula yang tetap memilih tinggal di zona ternyamannya. Entahlah, terserah si pemilik hidup. Jangan menjadi orang dengan seribu bibir.
Saat kau melihat orang lain menetapkan jalannya sesuai dengan pilihannya. Jangan pernah mencibirnya. Biarkan saja, jangan diurusi selama jalannya adalah jalan yang terbaik untuknya dan tidak merugikan orang lain.
Naamun, kadang datang individu yang bertemu dengan individu lain menjadikannya topic pembicaraan ditemani teh hangat dan onde-onde hangat, maka terciptalah cerita-cerita hangat.
Saat mereka mulai bercerita, si malaikat Atid siap mencatat memberikan poin setiap perkataan bahkan walaupun itu hanya sekedar kode-kode mata.
Seorang gadis berkepala dua, bukan karena kepalanya dua tapi begitulah penyebutan untuk menyamarkan usia. Gadis itu sangat tidak menyukai kode-kode mata, apalagi jika mata kaum  Adam.
Jika sepasang mata Adam melihatnya, betapa kesalnya hati si gadis itu. Ia seperti ingin melemparkan sebuah topeng tanpa cela untuk wajah si penatap.
Mungkin efek pengaruh dari doa yang konon pernah dipanjatkan, bahwa gadis ini memohon agar selalu ilfil melihat Adam-adam yang bukan pasangan namanya di Lauh mahfuz.
Lalu ada pula gadis yang rela bersolek berjam-jam, menempelkan berbagai macam zat di  wajah naturalnya untuk mendapatkan kecantikan lebih.
Ada berteriak, “Kecantikan itu dari dalam hati”.
Lalu, wanita bersolek itu membalas, “nyatanya tidak semua kaum Adam akan melihat dengan hati”.
Si peneriak pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan memutuskan untuk tidak lagi berteriak dengan gadis pesolek itu.
Setiap orang unik karena penampilannya, sikapnya ataupun karena pikirannya. Tapi yang terunik adalah orang-orang yang tidak merasa dirinya unik tapi orang lain justru menganggapnya unik.
unik dan aneh itu beda-beda tipis, setipis tisu yang katanya terbuat dari pohon.
Jika tisu terbuat dari pohon, lalu si pecandu tissue berarti adalah salah satu pelaku pembuat global warming.
Orang-orang berlomba-loma membuat rumah kaca dan membuat dalam rumahnya senyaman mungkin. AC dipasang di sudut rumah, suhu dingin dapat dirasakan bak di tengah hutang yang rindang.
Namun, ia tak sadar bahwa ancaman besar menanti dari luar kediamannya.  
Hal-hal kecil dapat membuat masalah besar. Meskipun dilakukan secara perorangan tapi jika dilakukan secara kolektif (bersama-sama) maka tunggu saj, lihat apa yang akan terjadi.
Si pengetik mulai menguap…
Setan selalu saja menggoda saat manusia melakukan hal-hal baik. Ia tak ingin manusia menjadi penduduk abadi surga. Setan itu tidak kelihatan saat menggoda namun godaannya selalu terasa.
Bisikan-bisikan tanpa suara dapat menggerakkan hati, pikiran dan tubuhmu. Setiap kali kamu membuat hal-hal yang bertentangan, itu berarti setan telah sukses menggodamu.
Saat tidak ada rasa penyesalan yang terbesit, maka setan kembali menang dua kosong mirip pertandingan sepak bola.
Mata si pengetik mulai berkaca-kaca, bukan karena sedih ataupun bahagia tetapi ini respon dari ditolaknya godaan setan untuk berbaring menutup mata.
Si pengetik kembali menguap, sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri.
Jari-jarinya tetap mengetik meskipun hanya menggunakan jari tengah dan telunjuk.
Lantunan ayat suci dari pengeras suara masjid saling bersahut-sahutan, suasana  Ramadan sedikit terkikis karena tanggal merah bagi setiap wanita baligh.
Beberapa wanita menyambutnya dengan penuh kegembiraan, namun beberapa wanita juga merasa kurang bersemangat dan merasa harap-harap cemas.
Kini, Si pengetik benar-benar sudah merasa ngantuk, anehnya ngantuknya akan hilang saat ia mengaktifkan handphonennya lalu berseluncur di dunia maya.
Dunia maya belum tentu benar-benar maya, karena maya hidup di dunia nyata. Refleksi dari orang-orang nyata pun bisa di bawah di dunia maya bahkan uang yang didaptkan dari dunia maya bisa dinikmati di dunia maya.
Di dunia maya…
Teman belum tentu kenal dan kenal belum tentu teman.
Si pengetik kembali menguap, kini air matanya jatuh di pipinya. Pandangannya menelusuri dinding yang penuh dengan kertas HVS hasil dari koreksi manusi bertitle.
Sebuah kalimat tertulis dengan tinta spidol bukan snowman,
“Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alannabi ya ayyuhalladzina amanu shollu ‘alaihi wasallimu taslima (dibaca sekali) Allahumma sholli alaih (dibaca seratus kali)”.
Cobalah lakukan setiap usai sholat subuh dan sholat magrib, lalu perhatikan apa yang terjadi?
Besok hari Selasa, sebuah kertas using tertempel pada pembatas dinding kamar. Pada baris teks kedua terlulis…
Selasa: Allahumma sholli ala nabiyyi umyyi wa ‘ala alihi wa sobbihi wasallam (seribu kali).
Cobalah dan perhatikan apa yang terjadi?
Jika kau ingin melihat hasil, maka perlu ada usaha yang dilakukan. Usaha saja tak akan pernah cukup membuatnya berhasil. Kau perlu roket untuk mengantarkan usahamu ke langit.
Namun, roket sangatlah susah dibuat. Maka jadilah doa yang menggantikan roket itu. Sebuah roket yang tak terlihat namun dapat membus langit yang menjulang tinggi.
Si pengetik meluruskan kaki kanannya, berharap ada ide untuk menjawab pertanyaaan
“Apa lagi yang harus saya ketik?”
Saat kau berpikir untuk segera mengakhirinya itu artinya kau tak menikmati setiap apa prosesnya.
Si pengetik, lalu tersadar.
“Apa sih yang saya ketik?”
Si pembaca yang dari tadi membaca dengan penuh setia juga bergumam.
“Mana aku tau apa kamu pikirkan, karena pikiran itu tidak terlihat dan tidak semua orang mampu membacany. Mungkin dengan intuisi yang kuat akan memberikan  keahlian untuk membaca apa yang dipikirkan”.
Apakah penting mengetahui setiap pikiran orang lain?
Sungguh, itu penting jika kau dapat menjadikkanya sebagai pelaran yang tak berharga meskipun se container uang.
Uang?
Apakah itu penting?
Sungguh itu, penting. Bagaimana mungkin kau bisa membaca tulisan ini tanpa melibatkan uang untuk membeli kuota. Meskipun kau pakai wifi gratis, tetap saja wifi itu pakai uang bukan daun.

Ok, Dua.
Kita kembali ke judul awal. Dua.
Jika memikirkan angka dua, apa yang terlintas di pikiranmmu?
Jika itu nomor calon presiden berarti teori agenda setting yang ada dalam ilmu komunikasi benar-benar turut berlaku padamu. Teori Agenda setting??? Silahkan tanya pada mesin tercerdas, Om Google.
Ok, waktunya menguploadnya dan mengizinkan sepasang mata untuk tertutup sejenak (Parepare, 20 Mei 2019 |21:06 Wita).


Sunday, May 19, 2019

Day 1 Again: Astagfirullah



Bismillahi rahmani rahim…
Setelah kemarin gagal menulis seribu kata (tantangan dari Tere Liye) akhirnya saya memulai dari awal lagi.
#Bagian 1
*Astagfirullah*
Gadis cantik jelita beralis tebal menegur,
“Kak, mukata mengkilap,” ucapnya sambil tersenyum menatap.
“Iyakah? Paling mengkilap karena hitam,” jawab wanita yang bernama sejuk.
“Mengkilap berminyak,,,kak,” timpal gadis beralis tebal itu dengan ekspresi tertawa.
Memang beberapa menit sebelumnya Sejuk baru saja berhadapan dengan minyak panas. Ia habis menggoreng tiga menu masakan. Pertama, bayam merah. Kedua, jagung dan ketiga pisang.

Bayam merah.
Seorang ibu berpesan pada anaknya,
“Rajin-rajinlah memasak sayur bayam merah. Bukan hanya dimasak saja tapi pastikan masakan yang kamu masak benar-benar masuk ke dalam perutmu. Karena bayam merah itu bukan hanya sebagai parnert nasi ikan tapi akan berkhasiat sebagai vitamin dalam tubuhmu,” pesannya.
Konon, bayam merah itu dapat menambah darah apabila tekanan darah seseorang itu rendah. Entah, apakah karena itu, sehingga tanaman itu dikatakan bayam merah karena khasiatnya menambah darah merah atau karena daunnya yang berwanah merah. Entahlah, tapi bagaimana dengan orang yang berdarah biru? Yang selalu menyatakan dirinya sebagai keturunan darah biru padahal darahnya tetap sama dengan yang lain.
Popeye dalam serial kartun yang sudah lama tidak tayang di salah satu televisi swasta, seringkali actor utamanya menjadi kuat saat ia selesai mengkonsumsi bayam. Dalam cerita kartun tersebut, bayam seperti pedang bagi orang yang berperang melawan musuh. Uniknya, bayamnya selalu terkemas pakai kaleng. Mirip kaleng susu ataupun kaleng ikan. Tapi, ada juga memandang kaleng sebagai status. Seseorang yang selalu menyebut dirinya kaleng-kaleng atau membantah dirinya bukan kaleng-kaleng. Entahlah…
Dulu, anak kecil sangat suka mengoleksi kaleng-kaleng. Anak perempuan akan membuatnya sebagai panci apabila bermain masak-masakan dan anak laki-lakinya akan membuatnya menjadi timbah mini yang diikatkan dengan tali panjang lalu diulurkan ke dalam sumur.
Jika anak perempuan dan laki-laki bersatu untuk bermain bersama maka kaleng-kaleng itu akan dijadikan sebagai wadah untuk menyimpang beberapa bayan-bayan (bukan bayam tapi sejenis kertas yang bergambar lalu digunting-gunting mirip pas foto ukuran tiga kali empat). Kamu sendiri mengggunakan kaleng untuk apa, versi dulu yahh? Dalam sejarah komunikasi, orang dulu menggunakan kaleng sebagai alat komunikasi yang dapat mengantarkan gelombang suara dengan menyambungkan kedua kaleng dengan benang. Apakah kau pernah melihat gambar ilustrasinya? Jika belum, bayangkanlah.
Kesukaan itu bisa menular. Anak yang disuruh makan bayam merah akhirnya menjadi salah satu makanan favorite hingga pada akhirnya teman dekat anak itupun ikut suka mengkonsumsi bayam merah karena sering makan bersama.

Jagung.
Menjelang sore hari, seorang gadis bermata bulat mirip Barbie masuk ke dalam kamar gadis bermata sipit dianalogikan mirip apa yah? Mirip apa jika bermata sipit, haaa?
Mereka awalnya membahas sapi namun berpindah membahas bayam merah sambil memisahkan antara daun dan batang bayam merah. Tapi karena gadis bermata bulat itu tak menyukai makan bayam merah, akhirnya gadis bermata sipit itu tidak terlalu membahas lebih jauh.
Mereka pun, akhirnya membahas jagung.
Gadis bermata bulat itu mulai bercerita bahwa ada orang yang tidak makan nasi karena  makan jagung. Ada juga yang kaget karena jagung. Ada juga merasa gatal-gatal karena jagung. Adapula yang harus mendaki karena jagung. Namun gadis bemata sipit itu hanya membayangkan satu hal tentang jagung, yakni manis.
Jagung manis akan lezat jika dimakan bersama cabai. Namun, jika bersama gula lebih baik memakai jagung yang hambar. Dahulu orang menikmati jagung sebagai bahan pokok makanan dikarenakan beras yang masih sulit di dapatkan dan hanya dinikmati oleh mereka yang mempunyai sawah ataupun punya banyak ringgit.
Kini, justru ada orang kaya yang punya banyak beras di rumahnya namun pancinya berisi jagung. Diabetes atau sering disebut penyakit gula menjadikannya harus memakan jagung. Orang yang sudah terbiasa memakan menu tersebut di masa lampau, maka itu tidak akan menjadi masalah.
Jagung bisa membuat kaget, namun ia menjadi teman akrab di tempat-tempat bergensi. Teman duduk saat menikmati sebuah film berbagai gender. Orang-orang menyebutnya Pop Corn namun masyarakat Sulawesi Selatan yang bersuku Bugis menyebutnya sebagai Benno. Cobalah jalan-jalan ke pasar yang ada mesin pembuat pop corn, kau akan kaget bukan karena melihat alatnya tapi saat mendengar suara alatnya. Menariknya, banyak orang yang sudah tau akan suaranya tapi tetap saja sukses membuat kaget. Bukankah kaget itu adalah sesuatu yang tidak diperkirakan atau tidak disangka?

Pisang.
Katanya dapat membuat kulit halus, pantas saja bayi kulitnya mulus karena suka makan pisang. Tapi, ada apa dengan monyet? Ada loh monyet yang suka tersenyum. Hehe
Orang Bugis itu punya banyak versi bahasa. Meskipun sama-sama bersuku Bugis tapi bukan berarti semua hal sama. Satu provinsi tapi belum tentu seragam kabupaten.
Seorang gadis berkulit putih rajin membersihkan toilet dan dapur kos-kosan berteriak pada gadis yang hanya membersihkan jika jadwal piketnya tiba.
“Ayo, makan loka. Ada di dapur di atas panci,”
Gadis yang diteriakinya itupun mengerutkan kening. Bukan karena menolak, tapi karena bingung apa yang dimaksud loka. Ia pun berjalan ke dapur melewati toilet yang kinclong habis disikat.
“Katanya di atas panci, saya kok lihatnya di dalam panci,” sambil membuka penutup panci.
Akhirnya dibukanya pun panci itu dan mendapati makanan kesukaan monyet.
Kali ini monyetnya tanpa senyum sambil membaca. Hehe, maap.
“Ini sih bukan loka, di daerahku ini disebut Utti yang dalam bahasa Indonesia disebut pisang,” gumanya.
Ada pisang yang bisa digoreng, tapi ada juga pisang yang dinaiki. Setiap orang yang ingin menaikinya harus membayar dengan kisaran harga yang ditentukan oleh si pemilik pisang.
Si pemilik pun akan bertanya, “Apa mau dibuang?”
Yang tak ingin matanya perih akan berteriak tidak. Namun, yang suka keseruan akan memberi kode kepada si pemilik untuk mengguling-gulingkan benda yang bernama banana bootnya.
Bayam merah, jagung manis dan pisang adalah tiga kata yang jarang berjumpa secara bersamaan. Namun, di tulisan ini mereka dipertemukan berdasarkan realita yang ditemui oleh si penulis. Meskipun tulisan ini tak seperti Tere Liye, manusia yang sebenarnya bukan monyet (kekeliruan teori Darwin yang menganggap bahwa evolusi manusia pada awalnya ber wujud monyet) itu tidaklah benar.
Maka jangan tersinggung, jika ada yang menyebut mu monyet. Karena yang tersinggung berarti membenarkan hal itu. Saya suka makan pisang bukan berarti saya itu monyet tapi saya mengaku bahwa ada persamaan saya dengan monyet yaitu sama-sama suka makan pisang dan sama-sama diciptakan oleh Sang Pencipta.
Jika kucing Imut, sesungguhnya monyet pun juga imut. Kuharap kau tak merasa imut.
Karena seMut pun tak merasa iMut. Tapi saya kurang tau bagaimana dengan MarMut.
Yang jelas Marbot selalu berjasa bagi pengunjung mesjid. Pertanyaanya, hari ini kamu ke Masjid gak? Sungguh, laki-laki itu keren kalau rajin ke masjid, baik itu bapak-bapak, kakek-kakek, pemuda-pemuda ataupun anak-anak kecil yang jelas laki-laki.  Bukan untuk mengamati sandal yang keren-keren ataupun wanita-wanita yang cantik jelita tapi untuk…. Untuk…untuk….untuk…untuk…untuk…untuk?
Kamu sendiri yang harus menentukan untuk apa ke masjid karena setiap orang memiliki tujuan yang berbeda-beda tergantung apa kepentinganmu.
Ok, Terima Kasih atas kesetiaan membaca sampai akhir. Tunggu, edisi esok. Insyaa Allah



Popular Posts

Translate

"Beloved"

"Beloved"

Followers